“Tamasya Film” Ajari Anak-Anak SD Membuat Film



Suasana saat pemutaran film pendek
                Solo  -  Antusiasme siswa dan siswi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 1 Surakarta terlihat, setelah tiga buah film pendek bertemakan anak diputar dalam “Tamasya Film” yang digelar Sabtu (6/6/2015).  Tamasya Film merupakan acara yang digelar oleh Wolulas+ Event Organizer, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 1 Juni 2015 serta guna untuk mewujudkan kota Solo menjadi kota Layak Anak. 

                 “Battle”  menjadi film pendek  pertama yang diputar, selanjutnya film pendek anak berjudul “Rena Asih” dan terakhir adalah “2B”, masing- masing pun memiliki pesan moral dan beberapa kali mampu membuat gelak tawa 118 siswa kelas 6 SD yang mengikuti Tamasya Film . Selain disuguhkan dengan tiga film pendek, siswa dan siswi SD pun diajak untuk membuat Film usai mendapatkan penjelasan singkat dari Senoaji Julius, yang menjadi pembicara sekaligus pembuat dari ketiga film yang diputarkan dalam acara tersebut. Pelatihan membuat film pendek 1 menit, dilakukan seluruh siswa dan siswi kelas 6 yang dibagi menjadi 20 kelompok. Para siswa dan siswi melakukan pelatihan yang terdiri dari pembuatan ide cerita, teknik pengambilan gambar, cara merekam, dan juga melatih kreatifitas serta melatih rasa percaya diri. 

                Salah satu siswi kelas 6 bernama Andra, mengatakan bahwa dirinya sangat senang dapat mengikuti pelatihan membuat film pendek. Andra menambahkan, bahwa setelah mengikuti pelatihan dirinya menjadi tahu bagaimana cara memegang kamera dan merekam sebuah video. Namun perasaan gugup dan grogi diungkapkan oleh siswi lain yakni Hanum, karena hal ini merupakan kali pertama dirinya berhadapan langsung didepan kamera. Antusiasme dan keseruan semakin terasa kala para siswa maupun siswi kelas 6 SD belajar untuk membuat film secara langsung.

                Kepala Sekolah SD Muhammadiyah 1 Surakarta mengatakan, bahwa acara ‘Tamasya Film’ ini merupakan acara yang sangat baik untuk anak-anak. Beliau menambahkan bahwa tidak dapat dipungkiri saat ini anak-anak lebih banyak mengkonsumsi beragam acara televisi yang masih minim tontonan yang layak bagi anak. Oleh karena itu dirinya mendukung acara ini dan berharap bahwa anak-anak dapat mengambil pelajaran dari film-film pendek yang ditonton, serta mereka dapat mengetahui mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. 

                Saat diwawancarai Fiesta FM, Senoaji Julius mengungkapkan bahwa tidak ada film yang layak anak, melainkan film yang mampu dimengerti oleh anak-anak. Menurut Senoaji, film anak tidak harus diperankan oleh anak-anak, bisa juga diperankan oleh orang dewasa namun isi ceritanya memang untuk anak-anak.  Senoaji menambahkan bahwa peran anak-anak dalam proses pembuatan film pendek seperti kegiatan pada acara ‘Tamasya Film’ penting sekali.

                 “Saat ini kita berada diera transisi, dimana teknologi khususnya teknologi komunikasi dan media komunikasi itu beralih, yang tadinya hanya berupa teks menjadi audio dan sekarang menjadi audio visual bahkan, 5 hingga 10 tahun kedepan medianya akan seperti itu”, lanjutnya. 

                Senoaji juga menjelaskan kalau tidak dibiasakan dan dikenalkan sejak SD maka kita akan selalu terbelakang karena kedepannya mereka akan  menyampaikan dan mengungkapkan sesuatu melalui video, misalnya seperti saat presentasi didunia kerja. 

                Bagi Senoaji pembelajaran dan pelatihan pembuatan film kepada anak SD bukan mengenai penguasaan alat tetapi apa yang ingin diungkapkan oleh anak dan dengan pelatihan pembuatan film sejak dini membuat pola pikir dan dan peka terhadap lingkungan serta mampu menyampaikan sesuatu dengan kritis adalah hal yang sebenarnya perlu dilatih kepada anak-anak dan yang terpenting adalah proses mereka mendapatkan dan memikirkan ide cerita, dan bagaimana mereka mengungkapkan ide tersebut.

               Media mampu menjadi sarana diluar kelas yang baik untuk anak-anak, namun infrastruktur belum cukup mendukung dan guru maupun orang tua murid mungkin juga belum terpikirkan penyampaian materi melalui media audio visual. Terakhir, Senoaji berharap kedepannya dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, masyarakat.


Anak-anak belajar mengoperasikan kamera

Siswa dan siswi berdiskusi untuk ide cerita film mereka


Audia Prita & Nurul Khumaira
              

1 komentar: